HIMA KESMAS UNLAM
On 29 Agt 2014
Pada tanggal 25 sampai 29 Agustus 2014 lalu, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-27 diadakan di Universitas Diponegoro. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) merupakan salah satu ajang bergengsi di kalangan mahasiswa demi mengembangkan kreatifitasnya, termasuk di kalangan Mahasiswa PSKM FK UNLAM. Setelah melalui perjuangan yang tidak sedikit, dari tahap seleksi ribuan Proposal PKM-K, monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), penilaian terhadap Presentasi, Laporan Kemajuan dan Laporan Akhir, sampai pada Presentasi yang menawan dihadapan Reviewer dari DIKTI, mengantarkan 3 Mahasiswa PSKM FK UNLAM yang digawangi oleh Yusef Dwi Jayadi, Rifátul Mahmudah dan Amalia Fitriana meraih Gelar Juara 3 pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-27 Tahun 2014 yang diikuti sebanyak 2.500 mahasiswa dan 540 dosen pembimbing yang berasal dari 90 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Melalui keberhasilan Kelompok PKM-K yang berjudul “WARUNG BATIK SASIRANGAN EROPA” KREASI KAIN TRADISIONAL KHAS KALIMANTAN SELATAN yang di kirim oleh PSKM FK UNLAM ini akan menjadi cikal bakal bagi mahasiswa PSKM lainnya untuk menunjukkan kreatifitas, prestasi dan inovasi dalam segala bidang. Selain itu, hal ini dapat menjadi batu loncatan untuk meraih prestasi yang lebih pada kegiatan-kegiatan selanjutnya.
On 8 Agt 2014
Saat ini pendidikan kesehatan masyarakat masih belum menyelenggarakan pendidikan profesi. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) merupakan tenaga ahli profesional di bidang kesehatan masyarakat, yang harus memiliki 8 kompetensi utama yang tertuang dalam naskah akademik. Delapan kompetensi utama tersebut diantaranya, berkemampuan melakukan analisis dan penilaian, berkemampuan mengembangkan kebijakan dan perencanaan program, terampil dalam komunikasi dengan publik, berkemampuan dalam pemahaman budaya, berkemampuan melaksanakan pemberdayaan masyarakat, berkemampuan memahami dasar ilmu kesehatan masyarakat, berkemampuan dalam perencanaan dan manajemen keuangan serta kepemimpinan dan berpikir sistem. Kedelapan kompetensi utama kesehatan masyarakat perlu diuji dalam bentuk event ilmiah dan kompetisi.

Atas pertimbangan tersebut dan minimnya agenda nasional yang menyajikan secara ilmiah dalam bentuk kompetisi untuk melatih 8 kompetensi utama kesehatan masyarakat yang telah dijabarkan maka HIMA KESMAS Universitas Lambung Mangkurat bekerjasama dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) serta Berkala Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (BIMKMI) untuk menyelenggarakan Scientific Festival of Public Health, yang terdiri dari beberapa kegiatan seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Nasional, Lomba Video Layanan Kesehatan Masyarakat, dan Lomba Poster Ilmiah, dengan sasaran praktisi, stakeholder dan mahasiswa(i) kesehatan masyarakat seluruh institusi perguruan tinggi negeri/swasta se-Indonesia.

Untuk Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Nasional silahkan klik link ini: http://www.mediafire.com/view/x71dvy7a67q117n/PEDOMAN_LKTIN_-_SFPH_-_INDONESIAN_PUBLIC_HEALTH_AWARDS.doc

Untuk Lomba Video Layanan Kesehatan Masyarakat silahkan klik link ini: http://www.mediafire.com/view/682dp432nyykalv/Ketentuan_Lomba_Video.doc

Untuk Lomba Poster Ilmiah silahkan klik link ini: http://www.mediafire.com/view/25g8qctccgh7232/Ketentuan_Lomba_Poster.doc
On
Saat ini pendidikan kesehatan masyarakat masih belum menyelenggarakan pendidikan profesi. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) merupakan tenaga ahli profesional di bidang kesehatan masyarakat, yang harus memiliki delapan kompetensi utama yang tertuang dalam naskah akademik. Delapan kompetensi utama tersebut diantaranya, pertama berkemampuan melakukan analisis dan penilaian. Kedua berkemampuan mengembangkan kebijakan dan perencanaan program. Ketiga trampil dalam Komunikasi dengan publik, keempat Berkemampuan Dalam Pemahaman Budaya. Kelima Berkemampuan melaksanakan pemberdayaan masyarakat. Keenam Berkemampuan memahami dasar ilmu kesehatan masyarakat. Ketujuh Berkemampuan dalam perencanaan dan manajemen keuangan dan kedelapan Kepemimpinan dan berpikir system.

Kedelapan kompetensi utama kesehatan masyarakat perlu diuji dalam bentuk event ilmiah dan dalam kompetisi. Mengingat saat ini minimnya agenda nasional yang menyajikan secara ilmiah dalam bentuk kompetisi untuk melatih 8 kompetensi utama kesehatan masyarakat. Atas pertimbangan tersebut maka Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (HIMA KESMAS FK UNLAM) dan bekerjasama dengan ISMKMI, BIMKMI, AIPTKMI dan IAKMI untuk menyelenggarakan kegiatan “Public Health Olympic” sebagai salah satu dari rangkaian acara 1st Indonesian Public Health Award dengan tema kegiatan “Be a Profesional Public Health, Scientific and Award”, dengan sasaran mahasiswa(i) kesehatan masyarakat seluruh institusi perguruan tinggi negeri/swasta se-Indonesia.

Technical meeting dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Jumat/28 November 2014
Waktu : 14.00 WITA s/d selesai
Tempat : Ruang Kuliah Besar (RKB) 4 Lantai 3 Gedung PSKM FK UNLAM Banjarbaru

Olimpiade akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu/29 November 2014
Waktu : 08.00 WITA s/d selesai
Tempat : Ruang Kuliah Besar (RKB) 4 Lantai 3 Gedung PSKM FK UNLAM Banjarbaru

Silahkan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut:http://www.mediafire.com/view/g9v2y966q9cvier/PEDOMAN_PELAKSANAAN_DAN_TATIB_PUBLIC_HEALTH_OLYMPIAD_(FIX).doc
On
Seiring dengan perkembangan dunia teknologi, dunia kesehatan pun juga semakin berkembang. kesuksesan program kesehatan Indonesia yang ditargetkan di dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015 pun diharapkan mampu mencapai target seperti yang telah direncanakan. Pelayanan kesehatan yang baik dan bermutu merupakan hak asasi manusia dalam memenuhi kesejahteraan hidup bagi setiap orang menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009. Namun sering terjadi dikotomi dalam upaya pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan yang baik hanya diberikan bagi kalangan masyarakat yang mampu sedangkan masyarakat yang kurang mampu tidak mendapatkan perlakuan yang adil dan proporsional.

Salah satu upaya pemerintah untuk mengimplementasikan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 menetapkan Jaminan Sosial Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, khusus untuk JKN diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Oleh sebab itu Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat bersama dengan Kementerian Kesehatan, Penggagas program Jaminan Kesehatan Nasional, Kepala BPJS Provinsi Kalimantan Selatan. Dan CSR PT. Adaro Enviromental Indonesia akan menjelaskan bagaimana sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia dan daerah serta peran perusahaan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan di daerah.

Untuk itu Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat mengundang mahasiswa, praktisi dan stakeholder dari seluruh Indonesia yang akan dilaksanakan pada tanggal 30 November 2014 bertempat di aula Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani Km. 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Silahkan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut: http://www.mediafire.com/view/4e98je621u3490z/KETENTUAN_MAKALAH_SEMINAR_ORAL_OKE.doc
On 4 Jul 2014
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama, dikutip dari situs http://muslim.or.id/ramadhan/hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html. Semoga bermanfaat.

1. Menggapai Derajat Takwa
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.

Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.

Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.

Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.

2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia

Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.[3]

Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:

Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika  berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.

Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.

Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya  pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.

Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4] Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.[5]

3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik

Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]

Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”[7]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[11]

Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[12]

Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]

4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka

Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.

Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]

Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]

Hikmah Puasa yang Keliru

Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]

Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”[19]

Adapun hadits yang mengatakan,

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]

Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

[1] Taisir Karimir Rahman, hal. 86.

[2] Hadits qudsi adalah hadits yang maknanya dari Allah Ta’ala, lafazhnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[3] HR. Muslim no. 1151

[4] HR. Bukhari no. 7171 dan Muslim no. 2174

[5] Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 276-277.

[6] HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid.

[7] HR. Bukhari no. 1903.

[8] HR. Ibnu Khuzaimah 3/242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih.

[9] Perkataan Al Akhfasy, dinukil dari Fathul Bari, 2/414.

[10] Perkataan Al Azhari, dinukil dari Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/114, 9/119.

[11] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/119.

[12] HR. Muslim no. 782.

[13] Lathoif Al Ma’arif, 378.

[14] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9906

[15] Lathoif Al Ma’arif, 369

[16] Lihat http://swaramuslim.net

[17] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim Surat Al Baqoroh, 1/317.

[18] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/422.

[19] HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini dalam Tuhfatul Ahwadzi, 7/139-140.

[20] Al Hafzih Al ‘Iroqiy dalam Takhrij Al Ihya’ (5/453) mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Awsath, Abu Nu’aim dalam Ath Thib An Nabawiy dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah (dho’if). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadits Adh Dho’ifah no. 253 mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).

Berita Populer